Juli 13, 2026

Berdamai dengan Mimpi, Menuai Kenyataan yang Lebih Bermakna

 


Aku terbangun dari lamunan, ketika suara denting jam menunjukkan pukul 14.00 tepat. Waktunya bergegas menjemput anak ketigaku pulang sekolah. Kugendong anak bungsuku yang masih tertidur lelap, kuambil tas, kunci mobil dan segera kuinjak pedal gas agar tidak terlambat sampai di sekolah. Setelah sampai rumah dari menjemput anak ketigaku, akupun bersiap bertempur di dapur. Menyiapkan makan malam, memandikan anak bungsuku yang masih berusia 2 tahun kemudian beberes rumah sebelum menemani anak-anak belajar dimalam hari.

Malam tadi, saat aku melipat sajadah selepas sholat Isya, terdengar notifikasi nada masuk dari ponselku. Suara gadis remaja dari kejauhan menyiratkan rindu yang mendalam. Sedalam rinduku selama 4 bulan ini tidak bersua. Anak pertamaku, kini menuntut ilmu di pondok pesantren yang terletak hampir seribu kilometer jauhnya dari tempat kami tinggal. Diujung timur pulau jawa. Rutin menelpon setiap seminggu sekali. Begitulah kami mengajarkan kepada anak-anak kami ketika berada jauh dari kami agar tetap terjalin komunikasi dan tentunya chemistry diantara kami berenam.

“Bunda, ada tugas pelajaran tematik membuat penelitian mengenai gaya hidup sehat yang kini sedang marak dikalangan masyarakat. Bantuin aku yaa bun. Please.” Anak kedua kami yang saat ini duduk di bangku SMP kelas 3 sedang banyak-banyak nya tugas ditengah materi-materi pelajaran yang harus dipahami untuk ujian akhir.

Begitulah keseharianku dengan 4 orang anak yang berbeda usia dan karakternya. Aku harus menghadapinya dengan penuh kewarasan dan kelapangan hati juga pikiran. Sedangkan suamiku bertugas di kota lain, yang berjarak lima jam perjalanan kereta, membuatnya hanya bisa pulang satu pekan sekali di akhir pekan. Namun jarak tidak membuatku merasa sendiri. Karena aku dapat berdiskusi, mencurahkan segala isi hati bahkan kadang berkeluh kesah kapan pun kepada suamiku.

Pikiranku melayang jauh, sejauh 22 tahun yang lalu. Di kampus tempatku bertemu dengan suamiku. Saat itu, seorang lelaki dengan penuh keyakinan dan kemantapan mengajakku ke jenjang hubungan yang lebih serius. Aku bimbang. Berdiri diantara mimpi dan realita yang ada didepan mata. Mimpiku seperti seekor burung yang terbang tinggi dengan anggunnya, mengepakkan sayap indahnya dengan penuh percaya diri. Aku ingin sekali melanjutkan kuliah lagi setelah wisuda. Kemudian setelahnya berkarir diperusahaan multinasional yang aku impikan. Namun saat ini didepanku ada seorang yang serius dan tidak aku temukan sebelumnya. Terbersit rasa khawatir tidak lagi menemukan seorang seperti dia dikemudian hari. Aku bimbang, sangat bimbang ketika dia tidak memberiku waktu berfikir yang panjang.

Dengan Bismillah aku menerima pinangannya. Sementara aku kesampingkan dulu mimpiku untuk mengambil program master. Toh aku masih diijinkan untuk berkarir setelah menikah. Aku fokus dengan biduk rumah tangga kami yang langsung dikaruniai seorang putri. Malaikat kecil yang berhasil melunakkan ego yang masih bersemayam didalam hati kecilku. Hidupku berdampingan antara karir dan tugasku sebagai seorang ibu dan istri. Belum genap dua tahun kami dikaruniai putri kembali. Yang menambah keramaian dalam rumah kami. Kali ini kami merasa menjadi orang tua yang terpilih. Dengan titipan dari Nya seorang putri istimewa yang membutuhkan perhatian khusus dari kami, terutama aku. Tidak mudah, karena merawatnya cukup menyita waktu, perhatian dan juga energi. Sampai disatu titik aku mulai bimbang, apakah aku tetap berkarier seperti saat ini atau aku fokus untuk mengasuh sendiri putriku. Disatu sisi, karirku dikantor sedang bersinar. General Manager divisiku mempromosikan aku untuk naik ke level F, setara dengan Junior Manager. Akupun berdiskusi dengan suamiku, menimbang langkah kedepan dan bersujud memohon petunjukNya.

Kemudian, aku mantapkan pilihanku untuk fokus mendampingi putri-putriku dirumah. Keputusan besar untuk meredam egoku. Kembali aku kubur dalam-dalam mimpi-mimpiku sendiri. Aku hidup dalam realita yang lebih membutuhkan kehadiranku. Namun aku masih menyimpan rapat secercah harapan diujung kejauhan akan mimpi-mimpiku itu menjadi nyata.

Hari demi hari aku nikmati bersama putri-putriku. Aku larut dengan keseharian dan rutinitas yang cukup menyita waktu dan pikiranku. Empat tahun kemudian kami dikaruniai seorang putra yang kami rindukan. Lengkap sudah rumah tangga kami dengan hadirnya putra putri yang semakin membuat riuh rumah kami. Sesekali terbersit rasa rindu akan kehidupan pribadiku ditengah hiruk pikuk rutinitas ini. Biasanya karena aku terlalu lelah atau jenuh. Aku melipir sejenak untuk menyeka lelah dan menyeruput teh hijau favoritku.

Dua tahun yang lalu kami kembali dikaruniai seorang putra. Diluar perhitungan kami sebagai manusia. Namun aku yakin pasti yang terbaik dari Nya. Aku bersyukur menjadi orang tua terpilih dengan hadirnya empat orang anak yang membuatku harus banyak belajar.

Ketika keempat anak kami sedang tertidur lelap, aku pandangi wajah polos mereka satu persatu, wajah menenangkan tanpa beban. Rasanya terbayar sudah segala bentuk lelah yang kurasa. Pun ketika putri pertama kami dipondok tidak rewel. Putri kedua kami masuk nominasi 40 besar dalam lomba menulis. Anak ketiga kami dengan imajinasi robot masa depan ciptaannya. Si bungsu lulus toilet training. Dan suami yang bersinar dengan karirnya diperusahaan tempatnya bekerja. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan itu semua selain Syukur. Rasa syukur karena aku mengambil langkah dan keputusan yang tepat. Bimbang yang terbayarkan bertahun-tahun kemudian.

Sekarang aku tidak lagi menggebu-gebu dengan mimpi-mimpi individualku dulu. Karena semua mimpi sudah menjadi kenyataan. Kenyataan yang lebih bermakna. Aku menikmati peranku saat ini. Karena belajar bisa tentang apa saja. Jenjang karir yang mulia pun sudah ada ditangan. Aku lanjutkan langkahku bagaimana aku terus tetap bermanfaat dan menemukan circle yang saling support untuk terus bertumbuh, bermakna dan berdampak. Seperti sore ini ketika aku mambaca artikel Menikah tapi Takut Kehilangan Mimpi? Belajar Rida dari Kisah Venti Dini Rahmatika - Ipedia Berita Baik di IPedia Berita Baik, aku merasa tidak sendirian. Dan aku yakin masih banyak ibu hebat diluar sana yang berjuang. Dengan menemukan circle yang tepat, berangkulan bersama, maka kita akan kuat.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026 https://ipediaberitabaik.id/

 

#Journeyto6thIpedia

#SuaraKitaCeritaKita

#IpediaBeritaBaik

 

Penulis : Ika Puspitaningtyas