Aku terbangun dari lamunan, ketika suara denting jam menunjukkan pukul 14.00 tepat. Waktunya bergegas menjemput anak ketigaku pulang sekolah. Kugendong anak bungsuku yang masih tertidur lelap, kuambil tas, kunci mobil dan segera kuinjak pedal gas agar tidak terlambat sampai di sekolah. Setelah sampai rumah dari menjemput anak ketigaku, akupun bersiap bertempur di dapur. Menyiapkan makan malam, memandikan anak bungsuku yang masih berusia 2 tahun kemudian beberes rumah sebelum menemani anak-anak belajar dimalam hari.
Malam tadi, saat aku melipat sajadah selepas sholat Isya,
terdengar notifikasi nada masuk dari ponselku. Suara gadis remaja dari kejauhan
menyiratkan rindu yang mendalam. Sedalam rinduku selama 4 bulan ini tidak
bersua. Anak pertamaku, kini menuntut ilmu di pondok pesantren yang terletak
hampir seribu kilometer jauhnya dari tempat kami tinggal. Diujung timur pulau
jawa. Rutin menelpon setiap seminggu sekali. Begitulah kami mengajarkan kepada
anak-anak kami ketika berada jauh dari kami agar tetap terjalin komunikasi dan
tentunya chemistry diantara kami berenam.
“Bunda, ada tugas pelajaran tematik membuat penelitian
mengenai gaya hidup sehat yang kini sedang marak dikalangan masyarakat. Bantuin
aku yaa bun. Please.” Anak kedua kami yang saat ini duduk di bangku SMP
kelas 3 sedang banyak-banyak nya tugas ditengah materi-materi pelajaran yang harus
dipahami untuk ujian akhir.
Begitulah keseharianku dengan 4 orang anak yang berbeda
usia dan karakternya. Aku harus menghadapinya dengan penuh kewarasan dan
kelapangan hati juga pikiran. Sedangkan suamiku bertugas di kota lain, yang
berjarak lima jam perjalanan kereta, membuatnya hanya bisa pulang satu pekan
sekali di akhir pekan. Namun jarak tidak membuatku merasa sendiri. Karena aku
dapat berdiskusi, mencurahkan segala isi hati bahkan kadang berkeluh kesah kapan
pun kepada suamiku.
Pikiranku melayang jauh, sejauh 22 tahun yang lalu. Di
kampus tempatku bertemu dengan suamiku. Saat itu, seorang lelaki dengan penuh
keyakinan dan kemantapan mengajakku ke jenjang hubungan yang lebih serius. Aku
bimbang. Berdiri diantara mimpi dan realita yang ada didepan mata. Mimpiku seperti
seekor burung yang terbang tinggi dengan anggunnya, mengepakkan sayap indahnya
dengan penuh percaya diri. Aku ingin sekali melanjutkan kuliah lagi setelah
wisuda. Kemudian setelahnya berkarir diperusahaan multinasional yang aku
impikan. Namun saat ini didepanku ada seorang yang serius dan tidak aku temukan
sebelumnya. Terbersit rasa khawatir tidak lagi menemukan seorang seperti dia
dikemudian hari. Aku bimbang, sangat bimbang ketika dia tidak memberiku waktu
berfikir yang panjang.
Dengan Bismillah aku menerima pinangannya. Sementara
aku kesampingkan dulu mimpiku untuk mengambil program master. Toh aku masih
diijinkan untuk berkarir setelah menikah. Aku fokus dengan biduk rumah tangga
kami yang langsung dikaruniai seorang putri. Malaikat kecil yang berhasil melunakkan
ego yang masih bersemayam didalam hati kecilku. Hidupku berdampingan antara
karir dan tugasku sebagai seorang ibu dan istri. Belum genap dua tahun kami
dikaruniai putri kembali. Yang menambah keramaian dalam rumah kami. Kali ini kami
merasa menjadi orang tua yang terpilih. Dengan titipan dari Nya seorang putri
istimewa yang membutuhkan perhatian khusus dari kami, terutama aku. Tidak mudah,
karena merawatnya cukup menyita waktu, perhatian dan juga energi. Sampai disatu
titik aku mulai bimbang, apakah aku tetap berkarier seperti saat ini atau aku fokus
untuk mengasuh sendiri putriku. Disatu sisi, karirku dikantor sedang bersinar. General
Manager divisiku mempromosikan aku untuk naik ke level F, setara dengan Junior
Manager. Akupun berdiskusi dengan suamiku, menimbang langkah kedepan dan
bersujud memohon petunjukNya.
Kemudian, aku mantapkan pilihanku untuk fokus mendampingi
putri-putriku dirumah. Keputusan besar untuk meredam egoku. Kembali aku kubur
dalam-dalam mimpi-mimpiku sendiri. Aku hidup dalam realita yang lebih
membutuhkan kehadiranku. Namun aku masih menyimpan rapat secercah harapan
diujung kejauhan akan mimpi-mimpiku itu menjadi nyata.
Hari demi hari aku nikmati bersama putri-putriku. Aku larut
dengan keseharian dan rutinitas yang cukup menyita waktu dan pikiranku. Empat tahun
kemudian kami dikaruniai seorang putra yang kami rindukan. Lengkap sudah rumah
tangga kami dengan hadirnya putra putri yang semakin membuat riuh rumah kami. Sesekali
terbersit rasa rindu akan kehidupan pribadiku ditengah hiruk pikuk rutinitas
ini. Biasanya karena aku terlalu lelah atau jenuh. Aku melipir sejenak untuk menyeka
lelah dan menyeruput teh hijau favoritku.
Dua tahun yang lalu kami kembali dikaruniai seorang
putra. Diluar perhitungan kami sebagai manusia. Namun aku yakin pasti yang
terbaik dari Nya. Aku bersyukur menjadi orang tua terpilih dengan hadirnya empat
orang anak yang membuatku harus banyak belajar.
Ketika keempat anak kami sedang tertidur lelap, aku
pandangi wajah polos mereka satu persatu, wajah menenangkan tanpa beban. Rasanya
terbayar sudah segala bentuk lelah yang kurasa. Pun ketika putri pertama kami
dipondok tidak rewel. Putri kedua kami masuk nominasi 40 besar dalam lomba
menulis. Anak ketiga kami dengan imajinasi robot masa depan ciptaannya. Si
bungsu lulus toilet training. Dan suami yang bersinar dengan karirnya
diperusahaan tempatnya bekerja. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan itu
semua selain Syukur. Rasa syukur karena aku mengambil langkah dan keputusan
yang tepat. Bimbang yang terbayarkan bertahun-tahun kemudian.
Sekarang aku tidak lagi menggebu-gebu dengan mimpi-mimpi
individualku dulu. Karena semua mimpi sudah menjadi kenyataan. Kenyataan yang lebih
bermakna. Aku menikmati peranku saat ini. Karena belajar bisa tentang apa saja.
Jenjang karir yang mulia pun sudah ada ditangan. Aku lanjutkan langkahku bagaimana
aku terus tetap bermanfaat dan menemukan circle yang saling support
untuk terus bertumbuh, bermakna dan berdampak. Seperti sore ini ketika aku
mambaca artikel Menikah
tapi Takut Kehilangan Mimpi? Belajar Rida dari Kisah Venti Dini Rahmatika -
Ipedia Berita Baik di IPedia Berita Baik, aku merasa tidak sendirian. Dan aku
yakin masih banyak ibu hebat diluar sana yang berjuang. Dengan menemukan circle
yang tepat, berangkulan bersama, maka kita akan kuat.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan
Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026 https://ipediaberitabaik.id/
#Journeyto6thIpedia
#SuaraKitaCeritaKita
#IpediaBeritaBaik
Penulis : Ika Puspitaningtyas
