Libur telah tiba. Horaayy. Dira senang
sekali karena libur panjang kenaikan kelas sudah didepan mata.
Liburan kali ini Dira berlibur ke rumah kakek.
Rumah kakek Dira berada di Jepara. Sebuah kota kecil di pesisir Jawa Tengah
bagian utara.
Dira berangkat dari Bandung pukul enam
pagi. Bersama ayah dan bunda. Ayah mengendarai mobil. Bunda duduk disebelah
ayah. Dan Dira duduk dibelakang sendiri. Perjalanan dari Bandung ke Jepara
memakan waktu sekitar delapan jam. Melalui jalan tol hingga Semarang, kemudian
jalan luar hingga masuk kota Jepara.
Dira menikmati perjalanan di jalan tol.
Melewati terowongan kembar Cisumdawu. Yang membelah bukit sepanjang hampir 500 meter.
Pemandangan disepanjang jalan tol Cisumdawu sangat indah. Bukit, lembah, sungai
dan awan cerah dengan bermacam bentuk abstraknya adalah lukisan alam yang
sempurna.
Setelah dua jam perjalanan, Dira sampai di
rest area Cirebon. Ayah berhenti untuk mengisi bensin. Sambil menunggu,
Dira pun mengobrol dengan bunda. Kata bunda, ada beberapa makanan khas Cirebon yang
terkenal. Yaitu empal gentong, tahu gejrot, nasi lengko, mie koclok dan nasi jamblang.
Bunda paling suka empal gentong. Empal
gentong merupakan hidangan berkuah yang berisi potongan daging sapi atau jeroan.
Terdapat dua pilihan kuah dalam empal gentong, yaitu kuah santan kaya rempah
yang gurih atau kuah bening yang cenderung asam dan segar. Disematkan kata
gentong karena proses memasaknya didalam kuali tanah liat (gentong).
Setelah selesai mengisi bensin, Dira
melanjutkan perjalanan kembali. Melewati kota Tegal yang terkenal sebagai kota
Bahari. Ayah bercerita, Kota Tegal merupakan tempat asal mula Warteg (Warung
Tegal). Kini warteg menjelma seperti virus, ada disetiap sudut kota. Dengan
sistem tunjuk lauk, makanan khas Nusantara dan harga yang cukup terjangkau.
Bahkan berkat komunitas diaspora Indonesia yang besar, kini warteg juga ada di
Amerika, Belanda, Jepang dan Korea. Selain masyhur dengan warteg-nya, Tegal
juga memiliki makanan khas yang terkenal, yaitu sate kambing muda, tahu aci,
soto tauco dan teh poci. Dira suka sekali sate kambing muda. Potongan daging
sate nya besar-besar tapi tetap empuk dan tidak alot.
Di Tegal bagian selatan terdapat gunung berapi yang masih aktif. Yaitu Gunung Slamet.
Gunung Slamet memiliki ketinggian 3.400 mdpl yang menjadikan Gunung Slamet adalah
gunung tertinggi di Jawa Tengah.
Setelah kota Tegal, Dira singgah di kota
Pekalongan. Kata bunda, Pekalongan terkenal dengan kerajinan batik. Bahkan
sampai keluar negri. Berbagai jenis kerajinan batik dihasilkan di Kampung Batik
Kauman dan Pasar Setono Pekalongan. Seperti pagi ini, Bunda singgah ke Pasar
Setono untuk membeli mukena dan sprei dari batik. Bagus sekali. Warnanya cerah,
motifnya bunga-bunga. Dira suka.
Tepat pukul 12.00 Dira sampai di Kota
Semarang. Dira beristirahat dan makan Soto Semarang. Tak lupa ayah memesan
minum es dawet duren. Sungguh enak sekali makanan khas Semarang. Setelah
selesai makan, bunda berbelanja bandeng presto, wingko babat dan lumpia.
Oleh-oleh khas Semarang untuk Kakek. Kakek sangat suka bandeng presto yang
digoreng dengan baluran telur. Lezaat sekali katanya.
Dira, ayah dan bunda kembali melanjutkan
perjalanan. Kota terakhir sebelum Jepara adalah kota Kudus. Kudus terkenal sebagai
kota kretek. Karena ada beberapa pabrik rokok terkenal disini. Salah satunya
pabrik rokok terbesar di Indonesia adalah Djarum. Kudus juga terkenal dengan
Jenang Kudus. Makanan tradisional mirip seperti dodol, bertekstur kenyal dan
berasa manis legit. Terbuat dari campuran tepung beras ketan, gula aren, santan
kelapa dan rempah-rempah yang dimasak lama.
Empat puluh lima menit dari Kota Kudus
sampailah Dira, ayah dan bunda ke rumah kakek di Jepara. Kakek sudah menunggu
diteras depan rumah. Senyum lebar dan pelukan hangat penuh bahagia dari kakek
menunggu kehadiran Dira, ayah dan bunda.
Bandung
| Mei 2026 | Ika Puspitaningtyas
#ceritaanak