Juni 21, 2019

DIY Kereta Kertas "Thomas"

Hari ini rencananya mau buatin mainan Amru. Karena Amru suka banget sama kereta Thomas, jadi mainannya pun seputar kereta Thomas. Dan kebetulan kemarin nonton Art Attack nya Disney Junior tentang membuat mainan dari karton dan kertas yang dilipat. Waktu itu dicontohkan membuat kepala dan setengah badan anjing dikarton yang kemudian diwarnai dengan cat. Sedangkan setengah badan lainnya diganti dengan kertas yg dilipat-lipat. Wah boleh juga nih idenya, tinggal mengganti tokohnya dengan lokomotif kereta dan gerbongnya.


Perlengkapan pun dirumah sudah ada semua. Tinggal mengeksekusinya. Ada yang istimewa kali ini, karena semua yang mengerjakan adalah kak icha dan mba ays. Saya hanya membantu memotong karton nya dengan cutter.

Setelah karton tebal digambar dengan gambar lokomotif dan gerbongnya kemudian dipotong dengan menggunakan cutter. Setelah itu diwarnai dengan menggunakan cat aklirik, kk icha dan mba ays lebih suka menggunakan cat ini karena dalam pengaplikasiannya lebih cepat kering. Sambil menunggu kering, lipat kertas untuk badan keretanya. Dan siapkan stik kayu untuk pegangan saat bermain.


Dan tralaaaa… kereta "Thomas" pun jadi. Kombinasi warna yang cantik karya kak ica dan mba ays. Amru pun senang dibuatnya. Tuuuutuuutt… sambil berlarian membawa mainan barunya.


Depok, 21 Juni 2019
Ika Puspitaningtyas


Juni 06, 2019

Kuliner di Salatiga dan Nostalgia Wedang Ronde

Entah sudah berapa lama saya tidak merasakan kehangatan wedang Ronde. Dulu waktu masih dibangku SD di Jepara hampir setiap malam ada pedagang Wedang Ronde yang lewat depan rumah. Saya dan alm Bapak pun sering pesan dan menyantapnya di teras rumah. Kini, setelah sekian belas tahun saya kembali bernostalgia. Semangkuk mungil wedang Ronde dengan isian dan rasa yang tidak berubah. Hangatnya kuah jahe yang pas, ditambah dua butir ronde, kacang, kolang kaling, kombinasi yang pas untuk diseruput malam hari seperti ini. Sambil menikmati suasana malam hari di kota Salatiga. Hanya saja yang membedakan dengan belasan tahun lalu adalah kini saya menikmatinya berdua dengan suami. Mengobrol berdua saja di emperan toko dipinggir jalan. MasyaAllah nikmatnya..


Keluar dari Jalan Senjoyo ke arah kanan banyak berjajar pedagang wedang ronde. Dan setiap tempat pun ramai dengan pembeli. Semangkuk mungil wedang ronde yang "hanya" lima ribu rupiah, tidak hanya menghangatkan badan tapi juga menghangatkan jiwa melalui obrolan-obrolan hangat dengan pasangan ataupun teman.



Setelah puas dengan wedang ronde, kami pun kembali meluncur menyusuri jalan mulai dari depan Pasar Raya yang bersebrangan dengan Hotel Grand Wahid hingga pertigaan menuju Jalan Senjoyo.

Beberapa pedagang nasi goreng dan bakmi jowo berjejer di pinggir trotoar sepanjang jalan didepan Pasar Raya. Mata kami tertuju pada gerobak bakmi goreng jowo yang tidak begitu penuh. Tanpa menunggu lama kamipun langsung memesan bakmi goreng jowonya.

Bakmi goreng jowo yang terkenal dengan citarasa manis yang saya cari-cari selama ini. Mienya memakai mie gepeng, porsinya yang "cukup" mengenyangkan dengan tambahan sayur sawi hijau yang melimpah. Tak lupa taburan bawang goreng diatasnya membangkitkan selera makan.


Hhhmmmm… tak lama sepiring bakmi jowo pun ludes dan berpindah ke perut. Maafkan yaa perut kalau malam ini (dan mungkin beberapa malam kedepan) "sedikit" khilaf. Hihihiiii…


Senjoyo Agung Guest House Salatiga, 6 Juni 2019
Ika Puspitaningtyas